Lala tampak bimbang. Pikirannya berkecamuk di antara dua pilihan—di satu sisi, ia memikirkan wanita yang diajak oleh Xiao Ling, sementara di sisi lain, ia tidak bisa mengabaikan kegelisahannya terhadap rencana yang dibuat Lynx. Saat ini, hampir seluruh murid, guru, bahkan para tetua dan orang-orang yang setia kepada Sekte Api Langit berniat membunuhnya.

"Xiao Ling, apakah kau benar-benar yakin ingin masuk ke dalam sekte?" Lala bertanya dengan nada penuh kekhawatiran. "Seharusnya kau tidak kembali ke sini dalam waktu dekat. Ini terlalu berisiko!"

Lynx hanya mengangkat bahu santai, seolah tidak terbebani oleh ancaman yang mengintainya. "Tenanglah, Li Wei. Tidak ada yang akan mengenaliku. Lagipula, aku sudah menyamar sebelumnya, bukan?" katanya dengan senyum tipis, penuh rasa percaya diri.

Li Wei terdiam sejenak, tatapannya tajam menusuk Lynx, penuh rasa ingin tahu yang mendalam. "Xiao Ling, kenapa kau tidak langsung menggunakan kekuatanmu untuk bergerak cepat dan muncul di tempat Ling Mei?" suaranya terdengar serius. "Dengan kemampuanmu, itu bukan sesuatu yang sulit, bukan?"

Lynx menghela napas pelan, matanya menatap ke kejauhan sebelum akhirnya menjawab, "Aku harus menyelidiki sesuatu lebih dulu. Jika aku langsung menyelinap dan pergi, aku tidak akan bisa menggali informasi yang cukup. Aku ingin tahu seberapa banyak mereka mengetahui kebenaran tentang kematian ketua sekte kalian. Hanya bergerak dalam bayangan tidak akan cukup."

Li Wei mengerutkan kening, lalu mengangguk pelan. Ia tampak merenung sebelum akhirnya mengeluarkan sesuatu dari dalam jubahnya—sebuah giok merah berbentuk api yang berkilau samar di bawah cahaya matahari.

"Ini adalah simbol keluarga Li," katanya sambil menyerahkan giok itu pada Lynx. "Bawalah ini. Jika ada yang mempertanyakan identitasmu, katakan bahwa kau adalah utusan ayahku, Walikota Huoling. Dengan ini, mereka tidak akan mudah mencurigaimu."

Lynx menerima giok itu dengan anggukan kecil, merasakan energi yang mengalir samar di dalamnya. "Terima kasih, Li Wei. Aku berhutang budi padamu."

Li Wei tersenyum tipis, meski masih ada kekhawatiran yang tersirat dalam tatapannya. "Berhati-hatilah. Aku tidak ingin melihatmu terseret dalam masalah yang lebih besar lagi."

Lynx menoleh sekilas, sudut bibirnya melengkung dalam senyum kecil. "Masalah selalu datang padaku, bukan aku yang mencarinya."

Dengan simbol keluarga Li di tangannya, Lynx dan Li Wei melangkah menuju gerbang Sekte Api Langit, di mana nasib mereka akan ditentukan oleh percakapan yang akan datang.

"Akhirnya kalian kembali. Apa yang kalian bicarakan? Kenapa lama sekali?" tanya Lala dengan nada penasaran, matanya menyipit curiga.

"Tunggu sebentar," bisik Lynx, suaranya nyaris tak terdengar. "Li Wei sedang berusaha agar kita bisa masuk ke dalam sekte." Tatapannya terarah pada Li Wei, yang masih berbicara dengan gurunya di kejauhan.

Li Wei menemui gurunya, setelah negosiasi singkat, Li Wei berhasil meyakinkan gurunya bahwa Xiao Ling bukanlah ancaman. Ia beralasan bahwa Xiao Ling datang bukan untuk membuat masalah, melainkan untuk menyelamatkan Ling Mei. Bagaimanapun, Li Wei tahu ada sesuatu antara Ling Mei dan Xiao Ling—sesuatu yang mungkin bahkan mereka sendiri belum sadari.

Tak lama, Li Wei kembali menghampiri mereka. Lynx segera memperkenalkan mereka berdua, tetapi alih-alih hanya menyambut, Li Wei menatap mereka dengan mata tajam penuh selidik. Rasa tak puas terlihat jelas di wajahnya.

"Apakah kalian memiliki hubungan khusus?" tanyanya tanpa basa-basi, nada suaranya terdengar setengah menuntut jawaban.

Lala melirik sekilas ke arah Lynx sebelum menatap Li Wei dengan ekspresi santai. "Jangan salah paham. Aku hanya mengikuti Xiao Ling karena dia butuh bantuan, bukan karena aku tertarik padanya."

Li Wei tersentak. Wajahnya memerah, entah karena malu atau kesal.

Lynx, yang tak ingin suasana semakin canggung, segera mengalihkan topik. "Kita bisa masuk sekarang?"

Lala mendesah dengan bosan. "Ya, ya. Aku sudah tidak tahan menunggu di sini."

Li Wei menghela napas, lalu berbalik. "Baiklah, ikutlah denganku."

Mereka pun mulai melangkah menuju bagian terdalam sekte, yang dijaga jauh lebih ketat. Namun sepanjang perjalanan, Lala terus melirik Li Wei dengan ekspresi kesal. Gadis itu terlalu akrab dengan Lynx, dan entah kenapa, itu membuatnya tidak senang.

Saat mereka semakin dekat dengan aula utama, beberapa guru dan tetua sekte segera melangkah maju, menghentikan mereka dengan tatapan tajam penuh kewaspadaan.

Salah satu tetua yang berjubah putih, dengan janggut panjang dan sorot mata penuh tekanan, menatap mereka dengan curiga. "Guru Yuan, siapa mereka? Dan apa alasan mereka berada di tempat ini? Apa kau lupa bahwa orang luar, apalagi yang identitasnya tidak jelas, dilarang masuk? Sekte kita masih dalam kondisi kritis!"

Guru Yuan menangkupkan tangan dengan hormat. "Salam, Tetua. Saya sudah membahas hal ini sebelumnya dengan Tetua Lian. Pemuda ini adalah Xiao Ling, yang sebelumnya pernah dipertanyakan kemampuannya untuk menyembuhkan Ling Mei." Suaranya tenang, seolah telah mempersiapkan jawaban ini sebelumnya.

Mata para tetua menyipit, mengamati Lynx dengan penuh selidik. Namun, Lynx tetap tenang. Ia mengeluarkan simbol keluarga Li dari lengan jubahnya dan memperlihatkannya tanpa ragu. Batu giok merah itu berkilauan di bawah cahaya lentera, memancarkan aura keagungan yang tak bisa dipalsukan.

"Aku berasal dari Kota Huoling, dan Walikota Huoling memberiku ini sebagai bukti identitasku." Suaranya mantap, tak sedikit pun menunjukkan tanda-tanda kebohongan.

Para tetua saling pandang. Salah satu dari mereka, seorang pria tua dengan alis putih panjang, mengangguk kecil setelah meneliti simbol itu. "Simbol ini memang asli… Tapi apa benar kau memiliki kemampuan untuk menyembuhkan Ling Mei?"

Lynx menundukkan kepala sedikit, menyembunyikan kilatan licik di matanya. "Saya ingin memeriksa kondisinya terlebih dahulu. Guru ilmu pengobatan saya yang akan memberi petunjuk cara mengobatinya."

Kebohongan itu meluncur begitu alami dari bibirnya. Ia tahu, jika mengaku akan menyembuhkan sendiri, mereka tak akan percaya. Namun, dengan menyebut seorang 'guru', itu akan membuat mereka berpikir dua kali sebelum menolak.

Salah satu guru yang sejak tadi diam tiba-tiba menatap mereka tajam. "Dan dia?" tanyanya sambil melirik ke arah Lala.

Lala mengangkat dagunya dengan percaya diri, tangannya berkacak pinggang. "Aku Lala. Rekan Xiao Ling."

Para guru dan tetua memperdalam tatapan mereka. Mereka segera menggunakan kekuatan spiritual untuk merasakan tingkat kultivasi Lynx dan Lala.

"Forging Qi tingkat dua dan lima…" bisik salah satu dari mereka dengan nada ragu.

Keheningan menyelimuti sejenak. Lalu, setelah beberapa detik pertimbangan, salah satu tetua akhirnya menghela napas berat. "Baiklah… Masuklah. Tapi ingat, satu gerakan mencurigakan saja, dan kalian akan menyesalinya."

Lynx menundukkan kepala sedikit, tersenyum tipis. "Tentu saja."

Dengan itu, mereka akhirnya berhasil masuk lebih dalam ke dalam sekte, menuju tempat di mana Ling Mei berada.

Selama perjalanan menuju kamar Ling Mei, Lynx mempertajam pendengarannya, menangkap bisikan-bisikan di antara para murid dan tetua sekte yang berbicara dengan nada rendah namun sarat kegelisahan.

"Tetua Xie masih belum ditemukan..."

"Apakah dia pergi untuk mencari orang misterius itu?"

"Tapi aneh… bukankah dia yang pertama kali mengabarkan tentang pembunuhan Ketua Sekte? Lalu tiba-tiba menghilang begitu saja?"

"Ya, tak ada seorang pun yang melihatnya setelah itu…"

Langkah Lynx melambat sejenak. "Tetua Xie, orang yang menuduhnya sebagai pembunuh Ketua Sekte, justru menghilang tanpa jejak? Ini terlalu mencurigakan." batinnya.

Namun, ia menyembunyikan kecurigaannya dalam hati dan tetap berjalan dengan tenang bersama Lala. Pikirannya bekerja cepat, mencoba menghubungkan semua kejadian ini, tapi yang terpenting saat ini adalah Ling Mei.

Guru Yuan yang berjalan bersama mereka seringkali menatap tajam ke arah Lynx dengan perasaan curiga. Dia memperhatikan setiap perilaku dan gerakan Lynx yang terkesan sedang melamun atau lebih tepatnya seperti sedang menyelidiki sesuatu. "Ketika orang misterius itu datang, dia menggunakan artefak, namun kekuatan yang terpancar dari orang misterius saat itu yang kami rasakan, dia ada di ranah forging qi tingkat dua. Mungkinkah dia? Bukankah saat itu dia terlihat seperti sudah saling mengenal dengan Ling Mei dan Li Wei." batinnya curiga.

